RSS

SAYA MULAI JATUH CINTA


kapur-papan-kisah-guru-pembelajar3

*sepenggal tulisan yang pernah dimuat dalam buku Kapur & Papan 3
“Don’t cry because it’s over. Smile because it happened. ~ Theodor Seuss Geisel ~
(Janganlah menangis karena sebuah akhir. Tersenyumlah karena ini semua terjadi.)

Menjelang kelulusan SMA, seorang guru pernah berpesan, “Jatuh cintalah agar kamu betah di Jogja!” Beliau mengatakan itu karena tahu saya sedang dalam keadaan bimbang antara meneruskan perguruan tinggi di Jogja atau Jambi.
Saat itu, saya hanya tersenyum simpul mendengar nasehatnya. Saya tersenyum karena saya sadar bahwa saya adalah jenis orang yang sulit jatuh cinta (hahaha). Hal itu bukan karena saya adalah orang yang perfeksionis atau suka pilih-pilih, tapi nyatanya memang bukan perkara yang mudah membuat hati saya tergetarkan oleh seseorang (hahah lagi). Dan benar, setelah menghabiskan waktu selama 7 tahun menempuh pendidikan di Jogja, sampai saat saya kembali lagi ke kampung halaman di Jambi, saya belum juga jatuh cinta pada seseorang!
Setelah menyelesaikan pendidikan S -1, saya memutuskan untuk menjadi guru di Sekolah Dasar swasta Muara Bungo. Salah satu kabupaten di Provinsi Jambi ini bisa dibilang sebagai kota yang sedang berkembang.
Bila dibandingkan dengan Jogja yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang penuh dengan daya tarik budaya, pariwisata, pendidikan, dan masih banyak lagi itu, tentu saja Muara Bungo tidak ada apa-apanya. Di Muara Bungo belum ada Mall dengan sederetan departement store di dalamnya, belum ada bioskop, belum menjamur toko-toko buku besar yang ketika di Jogja menjadi salah satu tempat favorit saya, dan masih banyak sarana

transportasinya yang rusak. Namun, ternyata justru di tempat inilah saya mulai jatuh cinta.

Biodata Penulis.
Reni Siswanti, kelahiran Sarko – Jambi pada 8 Agustus 1988 ini menamatkan pendidikan S – 1 di Universitas Negeri Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada 2011. Karyanya (cerpen dan puisi) pernah dimuat dalam buku berjudul Sebuket Mawar Merah yang diterbitkan Juxtapose pada 2009, Cinta Sang Guru, Kisah Inspiratif Kaum Guru diterbitkan oleh Kanisius pada 2014, serta dalam majalah Kartini dan Educare.
Salah satu pencapaian di bidang akademis selama kuliah adalah penerima hibah dana penelitian Student Union Grant (SUG) dari Program Kreativitas Mahasiswa (Dikti) pada 2010. Sementara itu, pencapaian non-akademis yang mengesankan baginya adalah menjadi peraih juara I International Merapi Climbthon yang dilaksanakan di Yogyakarta dan diikuti oleh warga domestik dan internasional pada 2010.

 
Leave a comment

Posted by on April 24, 2015 in Uncategorized

 

When You Believe Whitney Houston and – Mariah Carey Lyrics


When You Believe Whitney Houston and – Mariah Carey Lyrics.

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2014 in Uncategorized

 

Mereka adalah Guru Bagiku


Rabu, 28 Mei 2014, buku ini kuterima, dikirim oleh salah satu penerbit di Yogyakarta karena aku salah satu penulis kisah di dalamnya . Buku yang Berjudul “CINTA SANG GURU, Kisah Inspiratif Para Guru” ini memuat salah satu tulisanku yang pernah kuikut sertakan dalam lomba penulisan. https://renisiswanti.wordpress.com/2014/01/25/aku-adalah-guru-bagi-mereka-dan-mereka-adalah-guru-bagiku/. Check This Out…  Puji Tuhan. Semoga menjadi langkah awal untuk membuat karya berikutnya.

Image

 
Leave a comment

Posted by on June 7, 2014 in Indahnya Hidup

 

A Thousand Years – Christina Perri Lyrics


A Thousand Years – Christina Perri Lyrics.A Thousand Years – Christina Perri Lyrics.

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2014 in Uncategorized

 

SELALU ADA JALAN DALAM SETIAP USAHA


*Artikel ini pernah dimuat di Majalah Kartini Edisi November 2013, Rubrik Setetes Embun.

Sejak awal menempuh pendidikan sarjana, aku sudah memantapkan hati untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. As fast as possible. Aku bertekad tekun belajar dan mengerjakan tugas kuliah untuk mewujudkan niat tersebut. Meskipun berbagai kendala muncul, ternyata Tuhan telah membalas jerih payahku, sehingga aku dapat lulus tepat waktu.sb10069656g-001

Sejak SMA, tepatnya tahun 2004, aku sudah hijrah ke kota pelajar Yogyakarta untuk menuntut ilmu sementara orang tuaku tinggal di Jambi. Setelah lulus SMA, melalui ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), aku berhasil diterima di perguruan tinggi negeri yang ada di Yogyakarta. Hal tersebut merupakan hal yang mengesankan bagiku karena seleksi masuk melalui jalur itu terkenal sangat ketat.

Mahasiswa baru di Program Studi yang kupilih  yang masuk melalui jalur SPMB di gabung dalam satu kelas, yaitu kelas B 2007. Kelas tersebut terdiri dari 49 mahasiswa baru yang memiliki suku, agama, daerah asal, dan sekolah asal yang beragam. Aku adalah satu-satunya dari angkatanku di SMA yang masuk ke perguruan tersebut. Hal tersebut membuatku harus lebih aktif untuk mencari teman dan informasi perkuliahan.

Awal perkuliahan kulalui dengan lancar. Jadwal kuliahku dari Senin sampai Jumat, dari pagi sampai sore. Dalam tenggang waktu tersebut, biasanya ada jam kosong antara 2-3 jam. Selama kosong menunggu kuliah selanjutnya tersebut, aku mengisinya dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah, baik secara mandiri maupun kelompok bersama teman-teman. Fasilitas hot spot area yang ada di kampus pun aku manfaatkan untuk mencari referensi tugas.

Proses kuliah kujalani dengan semangat dan totalitas. Setiap kali semangatku mulai redup karena lelah dengan tugas bertubi-tubi, aku kembali mengingatkan diriku sendiri tentang keinginan lulus cepat. Aku dan teman-teman bahkan berkali-kali rela lembur mengerjakan tugas kelompok hingga malam menjelang. Untungnya, fasilitas kampus mendukung mahasiswa dalam mengerjakan tugas.

Sebagai selingan kegiatan, aku juga bekerja paruh waktu (part time). Selain menambah pengalaman kerja maupun kegiatan, bekerja paruh waktu juga juga membuatku memiliki uang saku lebih. Dari hasil kerja tersebut, aku selalu menyisihkannya untuk membeli buku pendukung kuliah atau bahkan membayar uang kuliahku sendiri. Ketika Meskipun demikian, aku selalu menempatkan kuliah sebagai prioritas utama sehingga bekerja tidak pernah menghambat kuliahku. Hal utama yang selalu memupuk  semangatku adalah dukungan dan doa dari orang tuaku tercinta.

Di semester tujuh, di sela-sela kegiatan KKN-PPL, aku mengajukan proposal penelitian Student Union Grant kepada pihak universitas. Aku sangat gembira ketika proposal tersebut ternyata lolos dan didanai. Pada saat itu, aku pun harus membagi waktu antara kegiatan KKN-PPL dengan pelaksanaan penelitian yang lokasinya berbeda dan berjarak sekitar 10 kilo meter. Selain itu, aku juga harus mengejar waktu karena laporan penelitian tersebut harus selesai dalam waktu yang telah ditentukan, dan deadline itu juga hampir bersamaan dengan laporan yang harus kubuat berhubungan dengan KKN-PPL.

Pengalamanku selama KKN-PPL dan penelitian tersebut jutru memberikan ide dan semangat membara untuk segera menyusun skripsi. Proposal skripsi yang kuajukan pun diterima oleh Ketua Jurusan. Dengan beberapa kali konsultasi, bimbingan, dan revisi dengan dosen pembimbing, aku pun diperbolehkan untuk melakukan penelitian.

Proses pengurusan surat ijin, pengambilan data, dan pengolahan data yang sudah pernah kulakukan dalam penelitian sebelumnya ternyata mempermudah dalam pengerjaan skripsiku. Dalam menyusun skripsi, aku sering berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan sharing dengan teman-teman. Aku juga berusaha sebisa mungkin membantu temanku yang masih mengajukan proposal maupun sudah sama-sama menyusun laporan skripsi. Aku tetap terbuka membantu temanku meskipun aku sendiri sedang sibuk mempersiapkan ujian skripsi.

Saat mempersiapkan ujian skripsi, aku harus lari sana-sini untuk mencari ruangan ujian yang saat itu memang banyak antrian untuk ujian skripsi mahasiswa jurusan lain. Setelah ruang dan jadwal ujian kudapatkan pun muncul masalah lain. Dosen pembimbingku ternyata juga sudah punya jadwal menguji skripsi mahasiswa lain. Pada saat itu aku sangat bingung karena kalau jadwal ujianku diubah, maka bisa diundur hingga bulan berikutnya dan itu pun artinya aku harus mengikuti wisuda pada gelombang selanjutnya. namun, tak kusangka, ternyata dosenku mengatakan bahwa beliau akan hadir pada ujian skripsiku.

Ujian skripsiku berjalan dengan lancar. Teman-temanku juga datang memberi dukungan dan membantuku mempersiapkan segalanya. Akhirnya, aku dinyatakan lulus dengan nilai A-.

Keesokan hari usai ujian skripsi, aku masih harus mengurus pendaftaran yudisium dan wisuda untuk gelombang terdekat. Namun, dosen pembimbingku ternyata tidak hadir ke kampus hari itu padahal aku harus mendapatkan tanda tangannya untuk mendaftar wisuda. Masih kuingat saat itu sudah pukul 16.30 WIB, sedangkan pendaftaran ditutup pukul 17.00 WIB. Untunglah, petugas pendaftaran segera menelepon dosenku dan memastikan apakah aku memang sudah lulus untuk wisuda. Pada detik-detik terakhir, akhirnya Tuhan mengabulkan permohonanku. Puji Tuhan…

Hal pertama yang kulakukan setelah mendengar kabar germbira tersebut adalah menelepon ayahku. Begitu mendengar suara ayah aku langsung menangis dan mengatakan aku akan segera diwisuda. Ku katakan pada orang tuaku bahwa semua  ini karena doa dan dukungan dari orang tuaku. Begitu besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang tua untukku. Aku berharap, semoga kelulusanku menjadi langkah awal untuk memberikan kebahagiaan besar pula untuk mereka. Amin.

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2014 in Uncategorized

 

Aku adalah Guru bagi Mereka dan Mereka adalah Guru bagiku


Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba Menulis Cerita Pengalaman Guru yang diselenggarakan oleh salah satu penerbit di Yogyakarta, dan Hampir menang.😀 Keep fighting….

Perjalanan Menjadi Guru

Menjadi guru. Jawaban tersebut tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya jika ada yang bertanya: “Ingin menjadi apakah kamu suatu hari nanti?”. Meskipun saya mengambil kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, namun sejak awal menjadi guru bukanlah profesi yang ingin saya tekuni. Saya dulu ingin menjadi seorang dosen, editor, atau wartawan surat kabar, yang penting bukan guru.

Ternyata, seiring berjalannya waktu, jalan hidup mengarahkan saya untuk menjalani profesi menjadi guru. Ya, sekarang saya adalah seorang guru SD Xaverius Muara Bungo yang bernaung di bawah Keuskupan Agung Palembang. Meskipun sebenarnya, ketika kuliah saya lebih dipersiapkan untuk mengajar SMP-SMA, namun di sini saya mengajar SD dengan tetap memegang mata pelajaran yang sesuai dengan bidang pendidikan saya, yaitu Bahasa Indonesia. Selain itu, saya juga mengajar Matematika dan Religiositas karena semasa kuliah saya juga pernah mempunyai pengalaman mengajar les privat. Pada awalnya saya melamar untuk mengajar di SMP, namun karena di sana formasinya sudah penuh, maka saya ditugaskan di unit SD. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on January 25, 2014 in Uncategorized

 

Me and My Job


Image

Hm…sudah nyaris 3 tahun saya tidak pernah menulis di blog ini. Bukan waktu yang sebentar. Ke-jarang-an saya menulis ini disebabkan oleh kesibukan penyelesaian skripsi yang (ehem) ternyata sangat menyita pikiran.🙂

Oke, kembali ke laptop. Jika terakhir kali saya menulis status saya masih sebagai mahasiswa yang imut-imut (hehe), maka sekarang saya sudah menjadi seorang wanita karir yang berprofesi sebagai guru. J

Oke-oke…mari kita akhiri saya tulisan penuh senyum-senyum tidak jelas ini. Saya akan mencoba fokus pada tema yang akan saya tulis : Me & My Job.

Jadi, saya sudah lulus dan benar-benar meninggalkan Yogyakarta (kota indah tempat saya menempuh pendidikan selama tujuh tahun dari SMA – kuliah) pada Desember 2011

. Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, saudara-saudara. Jadi, saya memutuskan untuk melepaskan kepenatan dengan istirahat (alias nganggur) sepuasnya terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Dua bulan pertama di rumah (Jambi) saya fokus pada acara besar pernikahan kakak. Lalu, 4 bulan selanjutnya saya (ehem) memanjakan diri dengan menganggur.

Awalnya saya sangat menikmati ke-menganggur-an saya itu. Namun, lama-kelamaan ternyata bosan juga. Orang tua yang awalnya juga ayem-ayem saja lama-lama juga khawatir dengan  kondisi kejiwaan saya yang tidak memiliki semangat mencari kerja. HUAHAHAHAHA… Akhirnya, atas panggilan hati nurani yang diperkuat dengan kebosanan menganggur itu, maka saya mulai membuat lamaran pekerjaan. Kalau kata Pak Tarno yang tukang sulap itu: BIM SALABIM JADI APA, PROK-PROK-PROK…hehe.

Surat lamaran dikirim. Tak lama ada panggilan interview yang sangat menarik. Di Tangerang. Saya pun langsung mencari info tiket pesawat. Tapi ternyata, orang tua yang awalnya merestui berubah keputusan. Mereka keberatan saya pergi. Alasannya: Tangerang terlalu jauh, nanti saya jauh dari mereka lagi, seperti lepas lagi dari pelukan. Tangerang sering banjir. Tangerang gak aman. Bla..bla..bla..Saya pun bimbang.  Panggilan yang sama datang kembali untuk menanyakan, mereka bahkan sudah menyebutkan gaji, cukup lumayan, menumbuhkan semangat saya kembali untuk berangkat. Sejenak orang tua mengijinkan, namun dihari berikutnya mereka keberatan lagi. Aduuuhh…

Setelah saya pikirkan ulang, saya pun memutuskan untuk tidak pergi. Saya ingin menggantikan tujuh tahun yang saya lewatkan jauh dari orang tua dengan bekerja di tempat yang mudah terjangkau saja.

Ternyata, pilihan kembali datang. Saya dikabari diterima di dua tempat secara bersamaan, hanya berbeda hitungan 10 menit. Sebagai wartawan dan guru. Dilema sudah pasti karena sejak dulu saya ingin sekali menjadi wartawan, namun tawaran menjadi guru merupakan bidang kompetensi saya yang lebih kuat dan itu juga terletak di kota tempat saya ingin sekali tinggal. Akhirnya, dalam waktu yang singkat itu saya memutuskan menjadi guru. Ya, saya sudah memilih dengan mantap. Meskipun saya sempat menangis di pundak ayahku karena tidak jadi wartawan. Aneh kan? Memang. Hehe.

Saya sudah memilih. Kadangkala, apapun itu, khususnya pekerjaan yang kita pilih, segalanya bukanlah hanya sekedar pertimbangan uang atau gajinya. Ada tujuan yang lebih tinggi dari itu, yaitu kita memiliki tujuan yang baik untuk memberikan sesuatu yang setidaknya berguna untuk orang lain. Saya memilih menjadi guru karena saya mencintai dunia pendidikan. Saya suka belajar. Saya suka berbagi ilmu. Itu saja.

Satu hal yang saya pelajari, setiap pekerjaan selalu memiliki segi enak dan tidak enaknya sendiri-sendiri. Jadi wartawan itu enaknya bisa bertemu dan berbincang dengan banyak orang, pergi ke mana-mana, kenal banyak orang, jam kerja yang fleksibel dan menantang. Tetapi tidak enaknya tentu saja harus siap 24 jam untuk mengejar berita yang update dan ada orang yang tidak suka.

Jadi guru itu enaknya bisa mengajar sambil belajar dengan murid-muridnya, punya banyak siswa, ikut bahagia ketika siswanya berhasil, dan guru menjadi salah satu sosok yang berperan penting dalam pendidikan. Tetapi tidak enaknya tentu saja ada, misalnya menghadapi siswa yang nakal dan sulit memahami materi pelajaran, atau tugas guru yang banyak sekali. J

So far so good. Saya masih belajar dan mencoba menjadi guru yang baik.

 

“Yang hebat di dunia ini bukanlah tempat di mana kita berada, melainkan arah yang kita tuju”.

*kata-kata ini saya kutip dari sampul buku tulis salah satu murid saya.

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2013 in Uncategorized